Motivasi Berhaji


Ada anggapan bahwa kewajiban menunaikan ibadah haji, kendati merupakan salah satu dari rukun Islam, namun tidak serta merta menjadi prioritas ibadah yang utama dan harus didahulukan. Tidak jarang seseorang menghadapi situasi dilematis, di mana munculnya keinginan untuk segera naik haji atau berhaji selagi muda acapkali timbul tenggelam dan terombang ambing perasaan skeptis.

Satu sisi orang tidak berminat cepat-cepat ingin menunaikannya karena alasan : belum siap secara mental, belum kuatnya niat tertanam di dalam hati, masih minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang teori dan makna haji. Belum lagi jauhnya jarak dan lamanya prosesi haji yang harus dijalankan, kendala bahasa dan seabrek bacaan doa-doa yang harus dihapalkan, ditambah lagi tingginya ongkos naik haji dan lamanya masa tunggu atau antrian naik haji. Sisi lain pada saat tertentu muncul obsesi dan keinginan kuat yang berujung kepada kerinduan untuk berkunjung dan menyaksikan dari dekat Ka’bah Baitullah. Rumah Allah yang dibangun pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismalil AS, kemudian pada era Nabi Muhammad SAW diabadikan sebagai kiblat shalat bagi umat Islam dan tempat berkumpulnya jutaan umat Islam dari segenap penjuru dunia dalam bentuk prosesi ibadah haji yang monumental dan fenomenal.

Dalam pada itu maju mundurnya seseorang untuk naik haji adakalanya dilatarbelakangi oleh maraknya ragam ceritera maupun kisah pengalaman orang yang telah berhaji. Ada banyak ceritera mencerahkan yang dialami tetapi tidak sedikit pula kisah menyedihkan yang terjadi. Ada banyak suka dan duka di dalamnya. Ada konsentrasi penuh dan fokus ibadah di sana yang mampu mengalahkan kesibukan duniawi yang serba materi. Ada banyak tantangan untuk melatih kesabaran dan tanda kesyukuran dalam berbagai ujian. Ada banyak peluang untuk berburu kebaikan dan mendulang pahala. Di samping itu ada pula keasyikan tersendiri ketika harus berbaur dengan ragam manusia dengan bahasa dan tradisi berbeda.

Ilustrasi di atas boleh jadi menggiring kita kepada pemahaman dan penyadaran tentang urgensi haji sekaligus memotivasi kita untuk mendalami dan mengalaminya secara langsung. Sehingga pada gilirannya kita merasa yakin dan mantap untuk berangkat haji serta berniat untuk segera menunaikannya. Antri naik haji bukan lagi halangan, sebab semakin ditunda boleh jadi ongkos naik haji makin tinggi, antrian kian panjang dan berakibat masa tunggu semakin lama. Wallahu a’lam bisshawab.

Quantum Haji

Istilah quantum sering dikaitkan dengan kiat menuju sukses (quantum sukses), petunjuk menggapai ikhlas (quantum ikhlas) serta strategi meraih hasil yang baik dalam belajar dan mengajar (quantum learning dan quantum teaching). Quantum ialah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses kegiatan yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat sekaligus dapat menyenangkan dan bermanfaat. Sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu seseorang agar menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas.

Jika dianalogikan dengan aktivitas haji, maka quantum haji memiliki konsep tentang “bagaimana menata suasana dan menciptakan lingkungan haji yang kondusif dan efektif”. Penataan ini ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif yang merupakan aset penting dalam berhaji. Para jamaah juga dikondisikan ke dalam suasana dan lingkungan yang optimal baik secara mental, fisik maupun psikis. Dengan mengatur suasana dan lingkungan sedemikian rupa menjelang dan selama berhaji (mikro),  diharapkan menjadi langkah awal yang efektif dalam mengatur pengalaman hidupnya setelah berhaji (makro).       
                               
Optimalisasi pengaturan secara mikro lebih ditekankan pada penataan mental, fisik dan psikis serta kondisi lingkungan yang dinilai dapat mempengaruhi jamaah dalam menerima, menyerap dan mengolah informasi haji serta menerapkannya dalam wujud nyata saat prosesi haji berlangsung; disinilah letak kekuatan orisinalitas quantum haji. Target penataannya ialah menciptakan suasana nyaman dan rasa senang dalam menunaikan ibadah haji. Keadaan senang mendorong para jamaah untuk dapat berkonsentrasi dengan baik dan mampu melaksanakan haji dengan  mudah dan fokus. Sebaliknya keadaan tegang akan menghambat aliran darah, proses kerja otak dan konsentrasi berhaji.  
                                   
Lebih jauh lagi pengaturan terhadap pengalaman haji secara makro mencakup “dunia yang lebih luas”, di mana seseorang yang telah menyandang predikat haji diminta untuk mengubah haluan ke arah yang lebih baik setelah kembali di tengah ling-kungan keluarga dan masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang menantinya. Semakin mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi situasi problematis yang menantang dan berkembang sehingga boleh jadi semakin mudah pula menemukan solusi baru. Selain itu berinteraksi dengan masyarakat juga berarti menjemput kemungkinan peluang yang akan datang dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut. Pada akhirnya interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan kondisi statis atau monoton dan situasi status quo yang boleh jadi tercipta di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan sayap pengetahuan dan pengalamannya ke arah terbentuknya sesuatu yang baru baik di lingkungan masyarakat dan terlebih lagi lingkungan keluarga. Jika ini mampu diraih bukan mustahil garansi haji mabrur akan diperoleh dengan sendirinya. Wallahu ‘alam bisshowab.